Sabtu, 28 Desember 2013

Biografi Ilmuan Muslim

1. Muhammad  Iqbal
                                Muhammad Iqbal adalah tokoh muslim abad XX yang sangat berjasa di berbagai bidang, baik politik, filsafat, sastra, maupun agama. Iqbal adalah pakar ilmu filsafat barat.
                        Ia dilahirkan di Sialkot, Punjab pada tanggal 22 Februari 1873. Salah satu kegemarannya adalah membaca dan menghafal Al-qur’an. Selain dididik oleh ayahnya beliau juga dididik oleh Maulana Mir Hasan. Pengaruh didikan Maulana, menjadikan beliau sebagai penyair dengan semangat keislaman yang tinggi.
                        Setelah menamatkan pendidikan dasar di tanah kelahirannya,beliau melanjutkan sekolah di Government Collage, Lahore pada tahun 1885. Lalu, ia juga melanjutkan studi di Cambridge, Inggris(1905) dan studi di Munich, Jerman(1907). Di Munich Iqbal meraih gelar Doktor dengan disertasi berjudul, “The Development of Metaphisics in Persia”. Disertasi ini merupakan karya filsafatnya yang pertama. Setelah itu, Iqbal kembali ke Lahore pada tahun 1908.
                        Sebagai filsuf muslim, Iqbal sering menuangkan gagasan tentang pribadi manusia (ego) yang kemudian menjadi tema pokok sejumlah puisinya. Diantara beberapa judul puisinya adalah Syikwah(Keluhan), Jawab-I-Syikwah(Jawaban keluhan),dan Asrari(Rahasia pribadi).
Ia juga aktif dalam dunia politik. Ia pernah menjadi Presiden Liga Muslim. Ia juga pencetus Negara Islam Pakistan.Dan beliau meninggal pada tanggal 21 April 1923 di Lahore.

2. yaqut al-HAMAWI
                   Yaqut al-Hamawi adalah salah satu penulis ensiklopedi geografi terkenal dalam sejarah sastra Arab. Ayahnya berkebangsaan Romawi. Ketika masih kecil, ia dibeli oleh seorang pedagang dari kota Hammah dan diberi nama Yaqut bin ‘Abdullah. Orang tua angkat Yaqut memberinya kesempatan belajar agama islam dan bahasa arab.
                        Selama beberapa tahun, Yaqut menekuni pekerjaan yang sama dengan pekerjaan orang tua angkatnya, yaitu sebagai juru tulis perniagaan, hingga akhirnya ia dimerdekakan. Setelah itu, Yaqut bekerja sebagai penulis. Pada tahun 1228, Yaqut berhasil menyelesaikan ensiklopedi geografinya yang monumental, yaitu Mu’jam al-Buldan. Selain itu masih ada buku karya beliau yang terkenal pula, yaitu Mu’jam al-Udaba’. Mu’jam al-Udaba’ adalah sebuah ensiklopedi geografi, sedangkan Mu’jam al-Buldan (ensiklopedi negara-negaradi dunia) adalah sebuah ensiklopedi yang tidak hanya berisi informasi geografis, tapi juga sejarah, pengetahuan umum, dan sastra.
                        Mu’jam al-Buldan merupakan sebuah buku geografi berbahasa arab terbaik pada abad pertengahan. Berkat ensiklopedinya yang dibuat dengan penuh ketelitian dan kejujuran itu, Yaqut mendapat gelar sebagai ”Ahli geografi Arab”.

3. AL-KINDI
                        Nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Ya’qub bin Ishak al-kindi. Masyarakat barat sering menyebutnya al-Kindus. Al-Kindi berasal dari Arab Selatan. Ia lahir pada tahun 809. Al-Kindi dikenal sebagai seorang filosof yang mahir kimia dan matematika.
                        Dalam sejumlah Al-Kindi sering membahas tentang logika dan matematika. Ia juga sering mengulas buku karya Aristoteles. Dalam catatan biografinya, al- Muntakhab, dikatakan bahwa ia adalah muslim pertama yang terkenal dibidang filsafat. Para ilmuwan Arab menganggapnya sebagai pendiri Filsafat muslim Arab. Seorang filosof sempurna dan pemikir yang bijak.
             Dengan kecerdasan dan keahliannya, al-Kindi juga menulis buku tentang kriptologi atau seni memecahkan kode. Dalam bukunya yang berjudul “Risalah fi Istikhraj al-Mu’amma” atau Manuscript for the Decipthering Cryptographic Message itu , ia menjelaskan beberapa cara menguraikan kode rahasia.
            Lewat buku ini, al-Kindi memperkenalkan penggunaan metode stistika untuk memecahkan kode rahasia. Pengalamannya bekerja sebagai penerjemah sandi rahasia dan pesan tersembunyi yang terdapat dalam naskah asli Yunani dan Romawi, telah mempertajam naluri al-Kindi dibidang kriptoanalisa. Tidak hanya menguasai ilmu kriptografi, al-Kindi juga pakar dibidang matematika.
            Ia telah menghasilkan beberapa buku mengenai sistem penomoran, yang kemudian menjadi dasar aritmatika modern. Bersama al-Khawarizmi dan banu musa bersaudara, ia diberi tugas menerjemahkan karya-karya filosof Yunani dalam bahasa Arab oleh khalifah al-Makmun.

4. IBNU KHALDUN
                        Ibnu Khaldun lahir di Tunisia pada tahun 1332 (723 H). Nama lengkapnya Abdullah al-Rohman Ibnu Muhammad. Keluarganya berasal dari wilayah Seville, Spanyol. Ia menimba ilmu di Tunisia dan Maroko. Di kedua kota tersebut, ia mempelajari ilmu agama dan ilmu umum. Dengan kecerdasannya, ia dapat menguasai kedua ilmu tersebut sehingga ia telah bekerja pada Kaisar Mesir pada usia belasan tahun.
                        Ibnu Khaldun aktif dalam dunia politik praktis. Ia pernah bekerja untuk Pemerintah Tunisia dan Fez (Maroko). Ia pun pernah terlibat masalah dengan pemerintahan Islam Granada, Spanyol sehingga ia mengasingkan diri menuju Aljazair dan tinggal didesa kecil bernama “Qhat Ibnu Salama”. Didesa tersebut, ia menulis karya fenomenal berjudul “Moqaddimah”, yaitu sebuah buku yang berisi pemikiran-pemikiran beliau.
                        Dalam buku ini, Ibnu Khaldun membahas masalah sejarah dan menganalisa hubungan dinamis antar manusia. Menurut sejumlah intelektual dunia, buku ini mempunyai peran besar dalam ilmu psikologi,ekonomi,lingkungan hidup, dan sosial.
                        Selain ter kenal sebagai penulis sejarah, Ibnu Khaldun juga di kenal sebagai seorang kritikus sejarah. Ia juga tokoh yang mengenalkan ilmu analisa peradaban manusia dan faktor-faktor yang mendukungnya.Selain itu, ia berhasil menemukan beberapa ilmu baru yang berkaitan dengan peradaban manusia, seperti ilmu pembangunan sosial atau kini disebut sosiologi. Ia juga dikenal sebagai perintis pendidikan modern.
                        Ia sangat percaya pada kekuatan akal, bukan kekuatan fisik. Menurutnya, kekuatan fisik hanya membuat orang malas, munafik, dan suka berbohong. Ibnu Khaldun hidup pada saat Mesir mengalami kemerosotan moral dan pendidikan. Hal tersebut meembuat Ibnu Khaldunmenghabiskan waktunya untuk mengumpulkan data dan mengingatkan orang-orang tentang pentingnya peradaban.
                        Dengan demikian, pemikiran dan analisa Ibnu Khaldun sangat berpengaruh bagi perkembangan dunia politik, sosial, sejarah, filosofi, dan pendidikan.

5. al-khawarizmi
                        Nama lengkapnya Abu Ja’far Muhammad bin Musa al-Khawarizmi. Ia lahir pada tahun 780 di Khawarizmi, sebuah kota kecil di pinggiran Sungai Oxus, Uzbekistan. Ia dipanggil al-Khawarizmi untuk menunjukkan tempat kelahirannya. Ia terkenal karena teori Algoritmanya. Selain itu ia juga menciptakan teori matematika lain. Misalnya, aljabar yang disebut aritmatika (ilmu hitung) oleh ilmuwan Barat.
              Aljabar diambil dari kata depan buku yang dikarangnya, yaitu “al-Jabr wa al-Muqabila”. Dalam buku ini, ia merumuskan dan menjelaskan secara detail tabel trigonometi. Tak hanya itu, buku tersebut juga memperkenalkan sejumlah teori kalkulus dasar. Sebuah karangan beliau yang dianggap penting dan telah disalin dalam bahasa latin adalah Trattari d’Arithmetica. Buku tersebut membahas beberapa soal hitungan, asal-usul angka, dan sejarah angka-angka yang sekarang ini kita gunakan.
              Trattari d’Arithmetica diterbitkan pada tahun 1857 di Roma.Beliau juga menghasilkan karya dibidang astronomi. Ia membuat sebuah tabel yang khusus mengelompokkan ilmu perbintangan ini. Beberapa universitas di eropa menggunakan buku karya beliau sebagai bahan acuan dan buku teks pelajaran untuk para mahasiswanya hingga memasuki pertengahan abad XVI. Beliau meninggal pada tahun 850.

6. UMAR KHAYYAM
                        Nama lengkapnya Ghyasiddin Abdul Fatih bin Ibrahim al-Khayyam. Ia lahir di Khurasan pada tahun 1048. Ia menimba ilmu dari seorang pendidik terkenal bernama Imam Muwaffak. Pada masanya ia dikenal sebagai ilmuwan cerdas abad pertengahan. Oeh karena kecerdasannya, Umar Khayyam ditawari menjadi pejabat istana oleh Sultan Malik Syah. Namun, ia lebih memilih mendalami ilmu penelitian.
                        Sultan pun memberikan dana untuk mengadakan penelitian dalam bidang matematika dan astronomi. Disamping diberi dana, Sultan juga membuatkan pusat observasi dan astronomi yang megah. Umar Khayyam, sebagai ketua besertabeberapa ilmuwan yang ada di istana mulai melakukan sejumlah penelitian astronomi. Mereka pun berhasil melakukan modifikasiterhadap perhitungan kalender muslim. Menurut hasil penelitiannya, dalam satu tahun terdapat 365,24219858156 hari. Ternyata, hasil penelitian Umar Khayyam tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian pada zaman sekarang.
                        Dalam bidang astronomi, Umar Khayyam berhasil menerbitkan sebuah karya berupa seri tabel astronomi yang dikenal sebagai Zij Malik Syah. Sementara dibidang matematika, hasil karyanya adalah al-Jabr (Algebra). Karya ini memberikan peranan besar dalam perkembangan ilmu matematika. Beliau adalah orang pertama yang mengklasifikasikan persamaan tingkat satu (persamaan linier) dan memikirkan pemecahan masalah persamaan pangkat tiga secara ilmiah. Ia juga telah memperkenalkan sebuah persamaan parsial untuk ilmu aljabar dan geometri. Ia membuktikan bahwa suatu masalah geometri tertentu dapat diselesaikan dengan fungsi aljabar.
                 Karya beliau yang lain adalah Jamawi al-Hisab. Karya ini berisi referensi paling awal tentang tentang segitiga pascal dan menguji balik postulat V yang menyangkut teori garis sejajar. Umar Khayyam juga seorang sastrawan. Ia menulis sejumlah puisi tentang kisah hidupnya. Puisi tersebut terdapat dalam karyanya yang berjudul Rubiyat. Kini, karya tersebut masih tersimpan di kota Khurasan. Sementara itu, karya sastra beliau yang lain banyak diterjemahkan kedalam bahasa Inggris. Salah satu karyanya diterjemahkan oleh Fitz Gerald pada tahun 1839. Beliau wafat pada akhir abad ke XII.

7. JABIR IBNU HAYYAN
                        Jabir Ibnu Hayyan adalah seorang ilmuwan yang menyandang gelar ahli kimia Arab. Abu Abdullah Jabir bin Hayyan al-Kufi as-Sufi adalah nama lengkapnya. Ia lahir pada tahun 721 dan dibesarkan dalam keluarga dokter. Demi menunjang aktivitasnya sebagai ilmuwan, Ibnu Hayyan mendirikan sebuah laboratorium. Di tempat ini, ia melakukan sejumlah percobaan, seperti sublimasi, penyaringan, kristalisasi, dan sebagainya.
                        Atas jasa dan karyanya di bidang kimia, Beliau mendapat gelar Bapak Kimia Islam pertaama. Ia tidak hanya terkenal dinegeri kelahirannya, tapi juga di wilayah lain, seperti Eropa. Disana ia lebih dikenal dengan nama Geber. Beliau juga dikenal sebagai orang pertama yang mendirikan laboratorium dan menggunakan tungku sebagai tempat mengolah mineral, mengekstrasi zat-zat, sebelum kemudian mengklasifikasikannya. Beliau juga menulis sejumlah risalah, terutama yang berkaitan dangan ilmu kimia.
                        Pada abad pertengahan, risalahnya yang berjudul Kitab al-Kimya dan Kitab al-Sab’een diterjemahkan kedalam bahasa Latin. Dikemudian hari, terjemahan bahasa latin al-Kimya diterbitkan lagi oleh seorang Inggris bernama  Robert Chester dengan judul The Book of the Coposition of Alchemy (1444). Sebuah buku karya Ibnu Hayyan juga sempat diterjemahkan oleh Berthelot dengan judul Book of Kingdom, Book of the Blances, dan Book of Eastern Mercury.
                        Pada tahun 1678, seorang penerjemah asal Inggris yang bernama Richard Russel menerjemahkan karya Jabir yang lain dengan judul Sum of Perfection. Dikemudian hari, buku ini menjadi buku terpopuler di eropa selama beberapa abad. Buku ini memberi pengaruh besar pada proses evolusi ilmu kimia modern. Ibnu Jabir Hayyan wafat pada tahun 815 di Khufah.
8. Zakariyya ar-razi
                        Ar-razi dilahirkan pada tahun 846 di Rayy, dekat Teheran, Iran. Nama aslinya adalah Abu Bakar Muhammad bin Zakariyya ar-Razi. Di barat, ia dikenal dengan sebutan Razhes. Ia juga sering dijuluki sebagai Galen-nya Arab. Galen adalah seorang dokter dan filosof Yunani yang sangat terkenal. Dibidang medis, ar-Razi mencurahkan segenap pikirannya untuk mendiagnosa penyakit cacar. Ia pun di anggap sebagai dokter pertama yang meneliti penyakit tersebut. Ar-Razi membedakan penyakit cacar dengan cacar air (variola) dan cacar merah (rougella).
                        Ar-Razi juga menulis sejumlah karya. Salah satunya adalah aj-Judari wal al-Hasbah (Cacar dan Campak), yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh J. Ruska dan diterbitkan dengan judul ar-Razi’s Buch : Gehemnis der Gehemnisse. Selama hidupnya, ar-Razi telah mengarang sekitar dua ratus buku ilmiah. Salah satu diantaranya adalah al-Hawi (Buku Menyeluruh) yang terdiri dari dua puluh jilid.
                        Buku karya ar-Razi lainnya adalah sebuah ensiklopedi kedokteran yang terdiri dari sepuluh jilid. Jilid kesembilan buku ini diterbitkan bersama al- Qanun fi’fh Thibb karya Ibnu Sina. Selain menulis buku, ar- Razi juga menciptakan berbagai jenis obat. Ia juga berhasil menemukan cara membuat alkohol. Dikemudian hari, penemuan tersebut ditindaklanjuti oleh Arnol Pilinov. Pada abad XII, alkohol menjadi populer.
                        Ar-Razi wafat pada tahun 925 dikota kelahirannya. Pengabdian dan kejeniusan ar-Razi diakui oleh dunia Barat hingga kini. Ia pun disebut sebagai tokoh perintis ilmu kedokteran terbesar dari dunia Islam.

9. khwaja nasiruddin at-tusi
                        Khwaja Nasruddin at-Tusi lahir di Tus, Kurasan (kini Iran). Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, at-Tusi mempelajari berbagai cabang ilmu, diantaranya fikih, usul fikih, kalam filsafat, tasawuf, kedokteran, matematika, dan musik (teori), sehingga ia dikenal sebagai seorang filsuf, teolog, matematikus, dan astronom. Namun, tokoh ini tidak begitu dikenal dikalangan Islam Suni, termasuk di Indonesia. Ia lebih dikenal dikalangan Islam Syiah dan dipandang sebagai teolog terbesar Syiah.
                        Jasa utama Nasiruddin at-Tusi dalam pengembangan ilmu adalah pembangunan sebuah observatorium di Maraghah, Azerbaijan. Observatorium tersebut dilengkapi dengan alat yang canggih pada waktu itu sehingga menjadi pusat penelitian astronomi dan matematika. Selain itu, beliau juga terkenal dengan tabel astronominya. Nama tabel astronomi ciptaan beliau adalah Zij-i Il-Khani. Beliau meninggal pada tahun 672 H/1274 M, di Bagdad.

10. Ibnu Sina   
                        Ibnu Sina lahir pada tahun 980 di Afsyanah, Bukhara. Di Barat ia lebih dikenal dengan sebutan Avicenna. Selain mempelajari ilmu agama, ia juga mempelajari ilmu umum, seperti matematika, fisika, dan kedokteran. Ia mempunyai kecerdasan yang tinggi sehingga dalam waktu setengah tahun mampu menguasai ilmu kedokteran.
                        Disebabkan kecerdasannya yang luar biasa, Ibnu Sina berhasil menguasai semua ilmu itu ketika umurnya masih sangat belia, yakni 10 tahun. Setelah itu, Ibnu Sina melanjutkan pendidikannya dengan belajar ilmu hukum, logika, matematika, politik, fisika, kedokteran, dan filsafat. Beliau dikenal sebagai otodidak yang amat tekun dan cerdas. Konon, ia menguasai ilmu kedokteran dalam waktu satu setengah tahun tanpa bimbingan seorang guru.
                        Menginjak usia 17 tahun, beliau berhasil menangani penyakit khalifah Nuh bin Mansur. Oleh karena itu, ia memperoleh izin untuk belajar di perpustakaan pribadi sang khalifah. Diperpustakaan tersebut, ia berkesempatan mendalami ilmunya. Ia mempelajari semua koleksi buku yang ada ditempat itu. Pada usia 18 tahun, Ibnu Sina telah menguasai seluruh cabang ilmu pengetahuan yang ada pada masanya.
                        Selain dikenal sebagaiii filosof dan dokter, Ibnu Sina adalah seorang menteri pula. Ia memegang jabatan tersebut pada masa pemerintahan Syamsuddaulah di Hamadzan. Namun disela-sela kesibukannya, beliau terus menghasilkan karya. Pada masa itu, ia menulis sebuah karya filsafat monumentalnya yang berjudul asy-Syifa’. 
                        Setelah kematian ayahnya, Ibnu Sina memutuskan untuk meninggalkan Bukhara menuju Jurjan. Dari Jurjan, ia terus mengembara hingga tiba di Khawarazm, sebelum kemudian sampai Mamadzan. Selama dalam perjalanan panjang itu, pemikiran filsafat Ibnu Sina semakin bertambah matang. Pada suatu waktu, ia berhasil membangun pemikiran filsafatnya sendiri sebagai suatu sistem yang lengkap dan terperinci. Pada masa itu, Ibnu Sina menghasilkan sebuah karya besar yang berjudul Qanun fi al-Tibb (Canon of Medicine).
                        Buku tersebut dianggap sebagai “buku suci” ilmu kedokteran dan dijadikan buku pegangan para mahasiswa kedokteran Eropa. Buku yang disebut sebagai ensiklopedi kedokteran ini telah menguasai dunia ilmu pengobatan Eropa selama kurang lebih 500 tahun. Buku ini bahkan sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, seperti Ibrani, Latin, Perancis, Spanyol, Itali, dan sebagainya. Sejak zaman Dinasti Han di Cina, buku ini menjadi standar kedokteran Cina.
                                Teori anatomi dan fisiologi yang tertulis didalamnya telah mendasari sebagian besar analogi manusia terhadap negara. Buku ini juga pernah diterbitkan di Roma (1593) dan India (1323). Salah satu pernyataan dari buku ini yang menjadi dasar sejumlah teori kedokteran adalah bahwa mengalir secara terus-menerus dalam satu lingkaran dan tidak akan pernah berhenti.
                        Ibnu Sina wafat pada tahun 1037 (428 H) di Hamadan. Pada tahun 1955, Ibnu Sina dinobatkan sebagai Father of Doctors (Bapak kedokteran) dan sebuah monumen dibangun untuk memperingati 1000 tahun kelahirannya di Teheran.

11. Ibnu Tufail
                        Ibnu Tufail adalah ahli filsafat dan kedokteran. Ia lahir di Guadix, Spanyol tahun 1110. Nama lengkapnya Abdul Malik bin Muhammad bin Abu Tufail al-Qaisy. Ia lebih dikenal dengan sebutan al-Andalusi dan al-Kurtubi. Di Barat, ia dikenal dengan nama Abu Bacer. Karya yang dihasilkannya dan menjadi salah satu karya cemerlang di bidang filsafat adalah Hayy ibn Yaqzan (The Living son of Vigilant).
                        Buku ini dibuat berdasarkan sebuah cerita kuno di dunia Timur, yaitu The Story of the Idol and the King and His Doughter. Buku ini berisi tentang pengetahuan manusia yang muncul dari sebuah kekosongan, lalu ia menemukan perjalanan mistik melalui hubungannya dengan Tuhan. Dalam setiap karyanya, ia selalu berupaya menyeimbangkan antara agama dan pemikiran rasional. Menurutnya, ada sebuah jalan mistis yang dapat dirasakan seseorang jika ia berhubungan dengan Tuhan, seperti ibadah yang dilakukan secara teratur. Beliau meninggal pada tahun 1185 di Maroko.

12. al-battani
                        Al-Battani lahir pada tahun 858 di Battan, Harran. Nama lengkapnya adalah Abu ‘Abdullah Muhammad Ibn Jabir Ibnu Sinan al-Battani. Namun para penulis abad pertengahan lebih sering menyebutnya dengan nama Albategni atau al-Batenus. Ketertarikan al- Battani pada benda-benda langit membuatnya menekuni bidang astronomi. Ia mendapat pendidikan pendidikan tersebut dari sang ayah, Jabir Ibn San’an al-Battani. Dengan kecerdasanyya, al-Battani mampu menguasai semua pelajaran yang diberikan ayahnya dan menggunakan sejumlah peralatan astronomi dalam waktu cukup singkat.
                        Sebagai seorang ahli astronomi, al-Battani menghasilkan sejumlah penemuan astronomi yang penting bagi dunia.Ia adalah ilmuwan pertama yang mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan bumi mengelilingi matahari, yaitu 365 hari, 5 jam, 46 menit,dan 24 detik. Angka yang ditujukan dalam perhitungannya itu mendekati yang dihasilkan para ilmuwan modern saat melakukan penelitian yang sama dengan menggunakan alat yang lebih akurat.
                        Al-Battani menemukan garis bujur terjauh matahari mengalami peningkatan sebesar 16,47 derajat sejak perhitungan yang dilakukan Ptolomeus beberapa abad sebelumnya. Ia juga bisa menentukan kemiringan ekliptik, panjang musim, dan orbit matahari secara akurat. Pada masanya beliau adalah satu-satunya ahli astronomi yang mampu menggambarkan ukuran bulan dan matahari secara akurat. Al-Battani dianggap sebagai guru, terutama bagi orang-orang Eropa, karena ia banyak mengenalkan terminologi astronomi yang berasal dari bahasa Arab, seperti azimuth, zenith, dan nadir.
                        Karya beliau yang sangat berpengaruh adalah Kitab Ma’rifat Matali al-Buruj fi ma Baina Arba al-Falak, sebuah buku ilmu pengetahuan tentang zodiak dan pemecahan soal-soal astrologi. Selain itu, dikenal pula Risalah fi Tahkik Akdar al-Ittisalat, yaitu sebuah uraian mengenai sejumlah penemuan dan penerapan astrologi. Karya al-Battani lainnya adalah az-Zaujuz li Battani (Almanak Versi al-Battani). Buku ini memuat enam puluh tema, seperti pembagian planet, lingkaran kecil yang mengitari lingkaran besar, garis orbit, dan sirkulasi peredaran planet.
                        Salah satu buku astronomi karya al-Battani yang juga terkenal adalah Kitab al-Zij. Pada abad XII, buku ini diterjemahkan dalam bahasa Latin dengan judul De Scienta Stellerum u De Numeris Stellerum et Motibus oleh Plato dari Tivoli. Terjemahan tertua dari karya tersebut masih tersimpan di Vatikan. Dalam bidang matematika, nama al-Battani juga cukup dikenal masyarakat dunia.
                        Salah satu kontribusinya dibidang ini adalah upayanya melakukan perbaikan terhadap kaidah-kaidah dasar hukum astronomi yang didasarkan pada penemuan Ptolomeus yang tertulis dalam Almagest. Beliau meninggal pada tahun 929 di Irak.

13. Abdus Salam
              Abdus Salam tercatat sebagai muslim pertama penerima Nobel. Sebelum Abdus Salam, tak seorang pun ilmuwan ataupun cendikiawan muslim yang berhasil meraihnya. Abdus Salam lahir pada tanggal 29 Januari 1926 di Pakistan. Ia meraih gelar Doctor of Phylosophy (Ph. D) dalam bidang Fisika Teori dan Uneversitas Cambridge, Inggris pada usia 26 tahun.
                        Dua tahun sebelumnya, ia berhasil memenangkan Smith’s Prizes karena beberapa karya ilmiahnya dianggap memiliki nilai tinggi. Sejak tahun 1957-1982, Abdus Salam telah menerima gelar Doctor of Science Honoris Causa dari 18 Universitas yang berada di berbagai negara. Sejak tahun 1957, ia bekerja sebagai guru besar Fisika Teori di Universitas London. Pada tahun 1964, ia menjabat sebagai direktur International Centre for Theoritical Physics di Trieste.
                        Abdus Salam melakukan sebuah penelitian yang hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan prinsipil antara gaya nuklir dan listrik. Pada tahun 1973, kebenaran teori tersebut didukung oleh para peneliti dari Laboratorium Riset Nuklir Eropa (CERN), Jenewa, yang menemukan adanya interaksi “arus netral”, yang merupakan bagian pokok dari prediksi teori Abdus Salam (Teori Medan Terpadu).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar